Rabu, 25 Januari 2017

Menjelang Lenyapnya Eksistensi Islam Nusantara Berkemajuan

Tulisan ini sebelumnya telah pernah dipublis di ciputatbergerak.com , namun dipublis kembali dengan data dan opini terbaru.

sumber: mastrigus.com
sumber: mastrigus.com
SEBELUM membahas lebih dalam, penulis hendak memulai dengan kutipan Harold Lasswell, seorang pakar ternama yang menyumbangkan banyak ilmu di bidang komunikasi. Kutipan berikut berkaitan dengan bagaimana suatu nilai ideologi dapat bertahan melalui komunikasi:

Sebagai ancaman paling serius terhadap komunikasi bagi masyarakat secara menyeluruh berhubungan dengan nilai-nilai kekuasaan, kesejahteraan, dan kehormatan. Mungkin contoh yang paling mencolok dari penyimpangan kekuasaan terjadi ketika isi dari komunikasi sengaja diubah agar sesuai dengan ideologi atau lawan ideologi. (James W.Tangkard, 2001)

Kutipan tersebut memperlihatkan pengaruh komunikasi dalam mempertahankan suatu ideologi. Siapa yang menguasai komunikasi, dialah penguasa dunia.  Sudah tidak dapat dipungkiri lagi pernyataan tersebut ialah benar adanya. Mereka yang berkuasa akan komunikasi, mereka jugalah yang akan membentuk informasi itu sendiri. Informasi tersebut akan menjadi suatu ideologi yang mampu menciptakan berbagai macam tatanan dunia.

Secara historisitas, manusia telah melalui beberapa tahapan dalam perkembangan komunikasi. Pertama, komunikasi retorika, yakni komunikasi dilakukan dua arah secara langsung di hadapan publik namun hanya dalam cakupan waktu dan wilayah tertentu.
Kedua, komunikasi pasca revolusi industri, ditandai dengan munculnya berbagai teknologi informasi, berupa koran (komunikasi satu arah berupa teks dan gambar, hanya pada periode tertentu) , radio (komunikasi satu arah, hanya audio tapi bisa menembus ruang dan waktu), dan televisi (komunikasi satu arah, bervisual, audio, menembus ruang dan waktu).
Ketiga, komunikasi virtual atau komunikasi online (komunikasi banyak arah, menembus ruang dan waktu, tidak dibatasi periode, bisa dilakukan oleh siapa saja).
Periode ketiga ialah periode yang sedang dan akan kita lalui. Komunikasi di era ini memiliki ruang tersendiri yang mampu menembus ruang dan waktu tanpa batas, yakni Cyberspace. Menurut Benedikt (1991), mengutip pernyatan William Gibson pada novelnya yang berjudul Neuromancer dalam Werner J.Severin (2001),
“Cyberspace adalah realita yang terhubung secara global, didukung computer, berakses computer, multidimensi, srtifisial, atau virtual. Dalam realita ini, di mana setiap computer adalah sebuah jendela, terlihat atau terdengar objek-objek yang bukan bersifat fisik dan bukan representasi objek-obejek fisik, namun lebih merupakan gaya, karakter, dan aksi pembuatan data, pembuatan informasi murni.”
Telihat adanya dunia baru yang semakin digandrungi di era saat ini. Termasuk Indonesia yang merupakan salah satu negeri yang memiliki pengaruh cukup tinggi dalam perkembangan komunikasi di era virtual.

Menurut hasil hasil riset Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJI), “Hingga 2014 terdapat 88,1 juta orang yang menggunakan internet, dari 252,4 juta jiwa penduduk Indonesia menghasilkan penetrasi internet sebesar 34,9 %. Dengan penyebaran dari terbesar hingga terkecil Jawa-Bali 52,0 juta pengguna, Sumatera 18,6 juta pengguna, Sulawesi 7,3 juta pengguna, Nusa tenggara-Papua-Maluku 5,9 juta pengguna,  dan Kalimantan 4,2 juta pengguna. Dari keseluruhan keseluruhan provinsi Jawa Barat menempati posisi paling atas sebesar 16,4 juta, disusul Jawa Timur 12,1 juta, dan jawa tengah 10,7 juta pengguna”.

Pada tahun 2016 terjadi peningkatan yang cukup tinggi, dari 256,2 juta jiwa penduduk menghasilkan tingkat penetrasi internet sebesar 51, 8 %. Dengan penyebaran Pulau Jawa 65%, Sumatera 15,7 %, Bali & Nusa 4,7 %, Kalimantan 5,8 %, Sulawesi 6.3 %, Maluku dan Papua 2.5 %. 
Sumber: APJII 2016
(Sumber: APJII 2016)

Hal menarik lagi dari perkembangan cyberspace di Indonesia ialah tingginya intensitas penduduk Indonesia yang menggunakan jejaring media sosial, dalam hal ini seperti Facebook dan Twitter. Berikut 10 negara pengguna Facebook tertinggi pada mei 2014 dan pengguna Twitter tertinggi se-Asia Pasifik  menurut badan pusat statistik marketing online (Statista):
sumber: statista
sumber: Statista


Terlihat pada grafik yang dikeluarkan Statista, bahwa intensitas pengguna media sosial di Indonesia sangatlah tinggi. Tingginya intensitas tersebut menciptakan “Virtual Communities”, yakni komunitas-komunitas yang lebih banyak muncul di dunia komunikasi elektronik daripada di dunia nyata.[4]  Virtual Communities ini menciptakan pola komunikasi politik yang baru bagi penduduk Indonesia yang termasuk di dalamnya. Ruang lingkup yang luas menjadikan cyberspace seakan tak memiliki batas. Siapa saja bisa mengakses dan menyebarkan informasi kapanpun dan dimanapun, akibatnya laju perkembangan informasi tidak terbatas.
Indonesia merupakan negara yang mengalami perkembangan grafik yang tinggi dalam penggunaan internet. Tingginya grafik ini mengakibatkan peluang dan ancaman bagi Indonesia, termasuk eksistensi Islam Nusantara yang mampu menghadirkan corak Islam yang moderat dan mampu berakulturasi demi menjaga kekokohan NKRI.
Dari hasil diskusi organisasi PMII cabang Ciputat dalam salah satu rangkaian materi Pelatihan Kader Lanjut di Puspitek, terlihat pemaparan yang mencengangkan dari salah satu pemateri. “Semua kategori informasi  SEO (Search Engine Optimization) di Google berkaitan dengan keislaman di langit Indonesia peringkat halaman pertama yakni media yang beraliran Wahabi. Bisa diketik pada mesin google “tau” maka akan keluar tausiyah islam pada peringkat pertama, ketika dibuka maka urutan halaman pertama tidak satupun bercorak Islam Nusantara” (Mas Huday, Pengamat Digital Media NU).

Fakta tersebut memberi tamparan yang luar biasa bagi  yang menjagai Aswaja dan Pancasila dalam mempertahankan NKRI. Maka tidak bisa dipungkiri belakangan ini gerakan radikalisme makin marak muncul. Salah satu penyebab yakni kalangan Nahdliyin tidak mampu menyerang balik arus informasi yang begitu pesatnya di era virtual. Maka bisa diprediksi pada tahun 2030, kalangan komunitas virtual akan menguasai laju persebaran informasi, jika kalangan Islam Nusantara yang moderat baik NU dan Muhammadiyah tidak dapat meng-upgrade diri sudah dipastikan kita akan kehilangan jatidiri.Terlebih Muhammadiyah sebagai ormas Islam berkemajuan harus mampu membendung pemahanam yang memecah belah NKRI, Hoax, dan radikalisme. Jangan hanya terfokus pada memajukan umat dalam bentuk fisik saja. Namun kepunahan ini terjadi jika organisasi Islam moderat yang selalu menjaga NKRI, seperti NU dan Muhammadiyah tidak melakukan pembenahan diri dalam pertempuran di dunia maya.Ormas Islam semacam ini harus mampu mengimbangi masuknya Ideologi transnasional yang mencoba merusak NKRI. sumber: instagram.com/ala.nu
Rabu, 28 Desember 2016 ormas ini mulai merespon dan menabuhkan genderang perang dengan mengadakan Kopdar Netizen NU. Diharapkan dengan pertemuan ini tidak hanya sebagai ajang silaturahim dan ngopi semata. Namun harus mampu menciptakan Roadmap apa saja yang akan dikeluarkan kedepannya. Harus mampu menciptakan domino efek yang luar biasa baik dari bawah maupun atas. karena nyatanya untuk saat ini masih tertinggal jauh, bisa kita lihat dari kekuatan mereka menguasai SEO (search engine optimization) Google, konten share sosial media dan messenger, menciptakan akun viral, dll.



Penulis adalah mahasiswa FISIP UIN Jakarta & Kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Ciputat
Catatan:
[1] Werner J.Severin Teori Komunikasi: Sejarah, Metode, dan Terapan di Dalam Media Massa, (Jakarta: Kencana, 2014) hal.380
[2] Parlindaungan Marius, Profil Pengguna Internet 2014 (Jakarta:APJI, 2015) hal. 20-21
[3] Dalam penelitian Statista tahun 2014 http://www.statista.com/statistics/268136/top-15-countries-based-on-number-of-facebook-users/ diakses pada 23 November 2015
[4] Werner J.Severin,  Teori Komunikasi: Sejarah, Metode, dan Terapan di Dalam Media Massa, (Jakarta: Kencana, 2014) hal.447

Jumat, 22 Februari 2013

Opini: Politik Adu Domba via Cyber Hacker

13610069801579147851
Tidak hanya di Indonesia yang mendirikan berbagai OP (Operatian,sebuah istilah untuk melancarkan serangan Hack melalui satu komando) tapi ternyata negara negara lain di Asia telah mendirikan OP yang tekadang satu negara bekerjasama untuk menyerang target yang sama. Berbagai OP telah didirikan demi untuk menghancurkan lawan yang menjadi target mereka. Belakangan OP yang telah didirikan oleh para hacker di Indonesia seperti #OP Pakistan, #OP Malaysia dan sekarang mereka lagi panas panasnya dengan #OP Myanmar.
#OP Pakistan yang panas pada tahun 2012 didirikan karena  para hacker pakistan dituduh terlalu ikut campur dengan urusan dalam negeri Indonesia dengan mengirim pesan kepada para Koruptor Indonesia yang membuat para hacktivist Indonesia geram dan melancarkan serangan.
"Orang orang Pakistan jangan campuri urusan dalam negeri Indonesia, dan pesan deface itu salah alamat karena itu kampanye negatif bagi Indonesia."  menurut salah satu Hacktivist #OP Myanmar.
Sebelum #OP Pakistan didirikan #OP Malasysia, yang disebabkan karena perebutan adu klaim tarian tor tor. ribuan situs malaysia berjatuhan dan ratusan situs Indonesia berhasil mereka deface. Salah satu bentuk pesan yang mereka tinggalkan.
"STOP STEALING INDONESIA CULTURE  HARITAGE, WE ARE THE INDONESIAN YOUTH GENERATION NEVER LET YOUR STEAL OUR CULTURE HARITAGE."
Sekarang pun didirikan #OP Myanmar dan ternyata tak hanya dari Indonesia yang ikut menyerang myanmar tapi dari negara yang dominan muslim lainnya yaitu Malaysia yang sempat menjadi Rival Indonesia. Tetapi sekarang mereka saling berkerjasama menyerang Myanmar.
Penyebab dari berdirinya #OP ini karena Myanmar dituduh menghina, melecehkan Indonesia serta agama Islam. Akibatnya lagi lagi situs kedua belah pihak yang menjadi akibatnya bahkan banyak situs pemerintah yang berhasil mereka lumpuhkan. Salah satunya target yang sampai saat ini  belum di patch atau dikontruksi ulang ialah situs Portal Nasional Indonesia www.Indonesia.go.id/.
Dari berbagai #OP yang didirikan mayoritas dari negara muslim dan Asia, yang menimbulkan banyak pertanyaan , komentar dan masukan  yang membuat kita  harus berpikir ulang. Berbagai komentar yang muncul seperti:
- apakah mungkin sekarang kita sedang diadu domba oleh kelompok tertentu yang menginginkan Islam dan Asia terpecah belah;
- setelah kita diadu domba dengan malaysia sekarang mereka malah mengadu domba dengan Pakistan kemudian Myanmar yang belakangan ini sangat sensitive;
- alangkah baiknya kita bersatu dan menyerang musuh yang telah nyata mengadu kita;
- kita boleh saja menyerang Anon anon tersebut tapi kita jangan lengah karena masih banyak saudara muslim kita yang membutuhkan kita.
Tulisan ini hanya opini yang mungkin tidak benar tetapi tidak menutup kemungkinan akan menjadi fakta. Semuanya diserahkan kepada diri kita masing masing. Yang penting kita jangan lengah akan setiap serangan yang menggangu kita baik negara maupun agama.

teknologi.kompasiana.com/internet/2013/02/23/resharepolitik-adu-domba-via-cyber-hacker-indo-vs-pakistan-vs-malay-vs-myanmar-537369.html

Jumat, 01 Februari 2013

PAN Meraup Suara PKS


           Partai Keadilan Sosial (PKS)  selalu membanggakan diri sebagai partai bersih karena Kader kadernya tidak pernah tersangkut kasus korupsi. Namun tidak untuk sekarang, citra PKS mulai menurut setelah presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq menjadi tersangka dalam dugaan suap impor daging sapi.

           Tapi ternyata dengan tercorengnya citra PKS belakangan ini ada partai yang dapat meraup suara partai tersebut. Dikarenakan partai yang dapat meraup suara tersebut memiliki daya tarik yang hampir sama jika kita lihat dari para calon pemilihnya. Siapakah Partai tersebut?

        Pengamat polotik dari LSI Burhanudin Muhtadi mengatakan bahwa partai yang paling banyak dapat meraup suara PKS ialah Partai Amanat Nasional (PAN). Dikarenakan partai tersebut memiliki kesamaan yang tidak menutup kemungkinan suara tersebut bisa beralih ke partai yang berlambah Matahari tersebut. 

“PAN paling banyak meraup suara, karena irisan calon suara PKS berdekatan dengan PAN. Dari sisi kelas calon suara dan  Kelompok Islam Modern  ,” papar Burhanudin  Jakarta, Sabtu (2/2/2013).

        Dengan terpilihnya presiden baru PKS yakni Anis Mata setidaknya mampu untuk membenahi kembali partai mereka. Walau banyak yang berpendapat pidato  yang dikemukakan Anis tentang penghimbauan Salat taubat Nasional yang akan diselenggarakan PKS agak janggal.

 Baca >>>
http://politik.kompasiana.com/2013/02/02/pengamat-politikpan-meraup-suara-pks-530756.html

Rabu, 30 Januari 2013

Kebebasan Pers ?

         
           "Kebebasan pers? "apa yang terbayang dalam pikiran kita jika dua kata tersebut saling berdekatan. Pasti banyak yang dapat kita uraikan dari dua kata tersebut. Banyak yang pro dan dan tak sedikit pula yang kontra.
                    Tapi intinya di negara yang berdemokrasi ini, kebebasan pers merupakan salah satu ciri utama dari terbentuknya demokrasi. Setiap orang boleh menyuarakan pendapatnya sesuka hati asal tanpa rasa takut, asal bertanggungjawab.

                  Kita memang pernah berada di Era Demokrasi Boneka yang kebebasan pers sangat dikekang dalam prakteknya. Media media dimanfaatkan sedemikian rupa demi melanggengkan kekuasaannya, menutup semua kesalahan, memutar balikan fakta bahkan membuat sejarah palsu. Apa yang ingin disampaikan di publik harus ada izin dahulu jika melanggar mereka bisa saja dihilangkan.

                    Namun, pasca Era Demokrasi Boneka tersebut jatuh, seakan-akan terjadinya banjir besar yang tidak bisa ditahan akibat tidak kuatnya bendungan melawan arus. Pasca itulah banyak opini dan sejarah baru yang bermunculan di muka publik. Masyarakat yang dahulu hanya didoktrin dengan dongen-dongeng yang belum tentu kebenaranya sampai-sampai mereka sempat tertidur sekarang telah bangun dari tidurnya.

                  Satu lagi pertanyaan, apakah hari ini kita benar-benar merasakan kebebasan pers yang murni? "belum tentu." Memang pada saat ini kita bisa mengkritik pemerintah sesuka hati kia demi terciptanya negara yang lebih baik. Tapi di sisi lain tidak hanya itu yang dikatakan kebebasan pers. Kebebasan pers sebenarnya ialah murni ingin menyuarakan pendapat tanpa ada permainan makhluk di atasnya yang memiliki kepentingan tertentu.

                 Banyak kita lihat media media yang telah tercemar dengan unsur politik dari golongan tertentu. Sehingga wartawan pada saat ini harus memilah apa yang ingin dia suarakan. Jika ia menjelek-jelekan salah satu golongan dari media tersebut, sudah jelas tulisannya tidak akan diterima bahkan ia bisa dikeluarkan. Oleh karena itu banyak wartawan yang benar benar memiliki idealis mengundurkan diri. sudah jelas media tidak terlalu menjadikan ini suatu sorotan penting.

                Ternyata kebebasan pers tidak 100% bebas dari kungkungannya. Kita seakan kembali ke era lalu dengan versi yang berbeda. Kita sebagai konsumen, harus benar benar bisa menyaring informasi yang akan kita konsumsi. Jangan sampai salah konsumsi, salah salah kita bisa keracunan.

baca juga: http://media.kompasiana.com/mainstream-media/2013/01/31/kebebasan-pers-530229.html

Minggu, 18 November 2012

Tokoh Capres 2014 dengan Ideologi Baru: ”Rhoma Irama”

-->
Belakangan ini banyak tampil di media publik nama-nama tokoh yang akan diusut untuk menjadi bakal calon presiden di bursa Capres 2014 mendatang. Baik itu dari tokoh  lama seperti Ketua Umum PDIP (Megawati Sukarnoputri),Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra (Prabowo Subianto),Ketua Umum Partai Golkar (Aburizal Bakrie) “Ical”, Ketua PMI (Jusuf Kalla), Ketua Umum Partai Hanura(Wiranto); kemudian tokoh baru yang namanya juga sering muncul seperti Menko perekonomian (hatta rajasa),Surya Paloh,Ketua MK (Mahfud MD),Menteri BUMN (Dahlan Iskan)Mantan menteri keuangan (Sri Mulyani Indrawati);selain itu muncul pula nama tokoh dari kalangan akademisi seperti Rektor UIN Syarif Hidayatullah (Komarudin Hidayat), Rektor Paramadina Jakarta (Anies Baswedan) bahkan Jokowi yang baru saja menduduki dan menjalani masa tugasnya juga tak lepas dari usutan untuk menjadi bakal calon presiden mendatang.
Ternyata yang menjadi nama tokoh untuk bakal calon presiden di bursa capres 2014 tak hanya dari kalangan yang disebutkan diatas saja akan tetapi juga ada yang diangkat dari kalangan artis atau seniman. Seperti belakangan ini nama Rhoma Irama yang dijuluki raja dangdut itu santer dibicarakan masyarakat karena namanya sering disebut-sebut bakal tampil di bursa calon presiden 2014.
Mengutip pernyataan Direktur Lembaga Survei Indonesia, Burhanudin Muhtadi disalah satu media publik mengatakan publik terlalu serius menanggapi kabar pencalonan Rhoma Irama sebagai presiden. Sebab nama-nama calon presiden yang beredar sekarang belum tentu akan melaju dalam pemilu presiden 2014.
“selain masih jauh dari deadline resmi, aka nada banyak nama, termasuk dari kalangan tidak jelas,”Kata Burhanudin
Kata Burhanudin, penyebutan nama Rhoma hanya strategi PPP guna menaikan elektabilitas partai. Nama PPP akan terangkat karena orang jadi tahu bila Rhoma kader PPP. Dampaknya bakal terasa pada pemilihan dari kalangan muslim. Nama Rhoma punya segmen khas, yakni pemilih dari kalangan  islam konservatif, yang melihat Rhoma didukung oleh ulama.
Sepertinya pengusutan nama Rhoma ini akan  menjadi survey cukup menarik, dengan munculnya nama Rhoma di bursa calon presiden 2014 akan terlihat nanntinya  bagaimana reaksi masyarakat. Dengan nama ini setidaknya kita bisa sedikit banyaknya meneliti seberapa banyaknya masyarakat Indonesia yang menyukai kriteria ini. Apakah kriteria ini akan menjadi perhitungan kelak, semua itu kita lihat saja nanti.
Yang pasti masyrakat kita sekarang tidak hanya melihat  ideologi dari berbagai macam calon maupun partai yang dibawanya,contohnya yang berideologi nasionalis seperti PDIP, Sosialis atau kerakyatan (Hanura),islamis (PPP) dan berbagai macam partai politik lainnya  dengan ideologinya masing-masing akan tetapi juga melihat elektabilitas dan kepamoran seorang tokoh.
Namun yang menjadi pertanyaan, kepamoran yang model apa yang dimaksudkan. Apakah kepamoran seorang seniman atau artis termasuk kategori kepamoran itu. Ternyata jawabannya bisa dikatakan “ya”, karena telah banyak terbukti para artis atau seniman yang berani mencalonkan diri sebagai pejabat dan telah banyak pula dari mereka yang terpilih. Beberapa nama tersebut yakni Rano Karno mantan pemain Si Doel Anak Sekolahan berhasil menjadi wakil bupati Tangerang, Alm. Adji Masaid dan Angelina sondak mantan artis dan putri Indonesia ini menjadi anggota DPR RI,Eko Patrio seorang pelawak menjadi anggota DPR RI, Nurul Arifin bintang film era 80’an menjadi anggota DPR RI,Tantowi yahya pembawa acara terkenal menjadi anggota DPR RI dan masih banyak lagi baik yang terpilih maupun yang gagal.
Tapi apakah kursi presiden akan diduduki oleh kalangan artis atau seniman dan seni menjadi ideologi baru partai politik, pertanyaan ini seolah-olah seperti lelucon. Tetapi pertanyaan yang kita anggap sebagai lelucon ini bisa saja  jadi menjadi kenyataan. Toh bapak presiden kita sekarang juga seniman dengan berbagai karya lagunya yang sempat menjadi hot topik publik.
Melalui tulisan ini saya harapkan agar para calon  presiden maupun wakil presiden serta jajaranya  dapat merubah  Indonesia menjadi lebih baik dan mampu melunasi apa yang mereka janjikan. Kemudian untuk partai politik agar dapat menjelaskan secara jelas garis ideologi mereka serta dapat menyajikan  program  yang bermutu dan dapat diterima oleh banyak masyarakat agar masyarakat dapat memilih secara lebih pintar dan sadar akan apa yang ia pilih.